Friday, September 28, 2012

Sekelumit Pemahaman terhadap 'Pahlawan-Pahlawan Belia' yang ditulis oleh Saya Sasaki Shiraishi


Segala hal yang diketengahkan dalam buku ini, pada akhirnya, mengambil analogi bahwa pemberontakan-pemberontakan atau gerakan-gerakan sosial yang terjadi selama era Soeharto merupakan perlawanan ‘anak’ kepada ‘bapak’ dengan meletakkan pola pengasuhan dalam keluarga dan juga pemahaman mengenai apa itu keluarga. Dalam tesis Ekna Satriyati yang berjudul ‘Alokasi Waktu bagi Anak-Anak di Desa Jawa’ dituliskan bahwa orangtua memiliki posisi superior dan anak-anak dalam posisi subordinat. Dengan demikian, saya dapat mengatakan bahwa apapun yang diperintahkan oleh orangtua harus ditanggapi sebagai sabda pandhita ratu tan kena wola – wali.
Nampaknya nilai kepemimpinan ini lah yang diterapkan oleh Soeharto, dimana apabila seorang pemimpin bertitah, maka titahnya tersebut mengandung ketetapan hukum dan harus dilaksanakan.
Kritisi saya pada Saya dalam melihat perlawanan ‘anak’ kepada ‘bapak’ adalah tidak disinggungnya bentuk hubungan resiprositas anak dan orangtua dalam sebuah keluarga. Pada sebuah thesis yang mengetengahkan studi kasus di Desa Sriharjo, Yogyakarta. Sukamtiningsih, menuliskan bahwa “ … anak bagi orang tua dapat dijadikan sebagai tumpuan hidup nantinya di hari tua … mempertahankan salah satu anaknya supaya dapat tetap tinggal dalam rumah (tabon) … umunya adalah anak yang dianggap dapat dijadikan tumpuan hidupnya.” (Hal. 141)
Adakah hubungan yang bersifat resiprositas terhadap ‘anak’ dan ‘bapak’ yang teridentifikasi dalam buku ini?

No comments:

Post a Comment