Thursday, July 18, 2013

An Extreme Reading of Facebook - Daniel Miller - Terjemahan dalam Bahasa Indonesia

(Pem)Bacaan Ekstrem Mengenai Facebook
© 2010 Daniel Miller, University College London, Open Anthropology Cooperative Press www.openanthcoop.net/press
Pada tahun 2009 hingga 2010 saya mengadakan penelitian di Trinidad. Penelitian ini berdasarkan pada partisipasi (observasi) yang dilakukan lebih dari satu tahun bersama dengan banyak warga Trinidad mengenai Facebook itu sendiri, ditambah dengan 2 bulan di negara tersebut melakukan diskusi secara tatap muka mengenai Facebook dengan beberapa peserta, termasuk melakukan lebih dari limapuluh wawancara formal.
Penelitian di Trinidad menunjukkan bahwa memang ada kasus yang menyebutkan bahwa SNS (Social Network Sites – Situs Jaringan Sosial) memutarbalikkan tren – tren utama sebagaimana diasumsikan oleh sebagian besar ilmu sosial. Yang pasti dengan menggunakan Facebook, terjalinlah seluruh tali silaturahmi yang selama ini putus, misalnya, dengan teman – teman sekolah dulu atau saudara yang pindah ke luar daerah. Banyak dari peserta dalam kajian ini menggunakan jaringan ini selama beberapa jam dalam sehari untuk menghidupkan kembali apa yang selama ini dipandang sebagai pengabdian yang bersifat tradisional pada hubungan sosial yang lebih tertutup yang memang dekat pada ide klasik mengenai komunitas.
Alana merupakan siswi perguruan tinggi yang tinggal di semacam pemukiman yang di kontemporer Trinidad sudah mulai jarang ditemukan. Trinidad modern merupakan wilayah yang cukup mobile dan jarang ditemukannya orang dari segala usia yang tinggal di tempat  mereka dilahirkan. Ada dua jadwal utama Alana ketika dia Facebook-an. Awalnya dia dibujuk untuk menggunakan Facebook oleh beberapa sepupunya yang berumur lebih muda yang suka bermain FarmVille. Dia mengakui bahwa dengan bermain permainan tersebut, waktu yang dihabiskannya untuk online bertambah dua jam per harinya. Namun konsekuensi yang dia dapat adalah membaiknya hubungan persepupuan secara online yang dirasa cukup efektif dalam memperbaiki hubungan dengan keluarga besarnya. Alana mengakhiri permainan dengan keluarganya tersebut dengan tidur sekitar jam 8 malam. Dia bangun tengah malam dan semenjak dia bangun hingga jam 3 pagi dia Facebook-an dengan teman kuliah sekelasnya. Sebagian besar dari mereka memiliki ritme harian yang sama. Alana memperhatikan bahwa hanya sekitar 20% dari percakapan berikutnya murni mendiskusikan PR dan proyek bersama.
Ketika memandang hakikat Facebook sebagai sebuah komunitas Alana paham betul bahwa hal tersebut hanya dapat dinilai menjadi suatu hal yang relatif bagi masyarakat offline. Alana menyimpulkan bahwa Facebook digunakan untuk melengkapi tingkatan komunitas offline. Facebook memiliki semua hal yang kontradiktif terhadap apa yang dapat ditemukan dalam suatu komunitas. Kita tidak dapat memiliki kedekatan dan privasi secara sekaligus. Kita tidak akan mendapatkan bantuan professional apabila tidak menderita klaustrofobia. Tingkat pertemanan kita tidak akan meningkat tanpa adanya pertengkaran hebat. Pilihannya pada apakah semuanya lebih intens secara sosial atau tidak sama sekali. Jadi yang paling penting dari apa yang disediakan oleh Facebook adalah cara untuk melengkapi versi offline dari komunitas dan untuk hidup dalam kontradiksi – kontradiksi yang sama.
Dengan demikian cara terbaik untuk memahami Facebook berhubungan erat dengan kajian antropologis mengenai masyarakat close-knit dan masyarakat intens, dan bukannya (memahami Facebook) sebagai bagian dari bentuk pertemuan secara sosiologis dengan individualisme kontemporer serta bentuk jaringan yang dibayangkan oleh Castells. Facebook, sepertinya, merupakan akhir dari apa yang sebelumnya disebut sebagai atrisi alami jaringan sosial. Facebook membawa semua orang yang sebelumnya diabaikan kembali pada kerangka bentuk hubungan terkini, seperti kerabat yang menghilang dan teman – teman sekolah.  Facebook mampu memberikan rasa sama – sama penting dengan membawa kembali populasi yang terdiáspora dan melakukan ameliorasi lingkungan tempat tinggal mereka di negara yang berbeda.
Keterangan (bukan bagian dari artikel ini):
Masyrakat close-knit: masyarakat dengan jalinan yang erat dimana masyarakatnya saling membantu dan mendukung.
Masyarakat intens (intense society): masyarkat yang memiliki persamaan sosial, solidaritas dan kebersamaan
Atrisi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses saling mengikis atau bisa juga dikatakan pengikisan
Diaspora dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti masa tercerai-berainya suatu bangsa yang tersebar di berbagai penjuru dunia dan bangsa tersebut tidak memiliki negara, misal bangsa Yahudi sebelum negara Israel berdiri pd tahun 1948.
Ameliorasi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti peningkatan nilai makna dari makna yang biasa atau buruk menjadi makna yg baik

Mengingat bahwa Facebook merupakan suatu jaringan sosial, idiom paling sederhana yang mungkin untuk membentuk pemikiran atas bentuk hubungan dengan Facebook itu sendiri adalah dengan menganggap hubungan (dengan Facebook) tersebut semacam meta-sahabat.  Satu keuntungan Facebook adalah bahwa Facebook benar – benar merupakan sahabat yang dapat diandalkan. Facebook menjadi tempat dimana kita dapat berbicara sebanyak mungkin, dengan atau tanpa respon dari yang lain.  Situs ini benar – benar memperhatikan permasalahan yang telah berlangsung lama yaitu kebosanan, terutama kebosanan yang dialami remaja, tanpa harus membebani waktu orang lain. Membagikan penderitaan secara publik dimungkinkan dengan adanya Facebook.  
Setelah beberapa saat mempelajari Facebook, jelas bahwa, apapun alasannya pada saat kita berteman dengan mereka , kebanyakan orang menyadari bahwa ada dua lapisan utama dalam jaringan mereka. Lapisan pertama adalah lapisan aktif yaitu pada siapa pengguna Facebook memberikan respon dan siapa yang menanggapi serta lapisan kedua adalah lapisan tidak aktif dari ratusan orang lainnya yang mewakili orang lain pada umumnya yang terdiri dari seseorang atau semua orang. Kita tidak secara aktif terlibat dengan mereka, namun mereka sadar bahwa mereka ada dan pertanyaan yang tersisa adalah apa peran mereka dalam kaitannya dengan postingan personal kita.

Kita telah sampai pada titik dimana Facebook dianggap telah menyediakan médium penting dari visibilitas dan penyaksian oleh publik (public witnessing). Facebook memberikan pembentukan moral dimana kita memiliki rasa tidak hanya mengenai siapa kita tapi siapa kita seharusnya. Facebook normatif tidak hanya pada netiket yang telah disepakati (konsensual), tapi juga dorongan untuk menyaksikan tatanan moral diri.  

No comments:

Post a Comment