Thursday, July 18, 2013

Panduan Digiactive untuk Twitter Aktivisme - Andreas Jungherr

Panduan Digiactive untuk Twitter Aktivisme 
Keterangan (bukan bagian dari artikel):
Digiactive merupakan sebuah kelompok yang membantu kegiatan akar rumput di seluruh dunia dalam menggunakan internet dan telepon selular untuk meningkatkan dampak dari kegiatan mereka

oleh Andreas Jungherr, DigiActive, Creative Commons Attribution Non-Commercial 3.0 License Version 1.0 | April 2009
Sepanjang akhir 2007 dan awal 2008 sebuah layanan media sosial muncul di tengah promosi besar – besaran dari para pemasar dan penggemar media sosial. Twitter (http://twitter.com) semenjak itu diadopsi oleh kelompok aktivis di seluruh dunia..           
Twitter merupakan layanan mikroblog yang memungkinkan penggunanya untuk menampilkan pesan pendek, hingga 140 karakter panjangnya, mengenai kabar berita (news feed) yang bersifat pribadi. Pengguna dapat memperbaharui feed mereka langsung dari situs web Twitter, atau mereka dapat menggunakan beragam aplikasi komputer dan telepon genggam, termasuk SMS.
Feed ini dapat diakses langsung melalui laman web anggota, tapi Twitter juga memungkinkan penggunanya untuk menerima informasi terbaru dari aplikasi telepon genggam atau komputer yang mereka pilih. Proses sindikasi ini disebut “following” (mengikuti). Jika seorang pengguna “mengikuti” (follow) feed Twitter dari pengguna lain, dia menerima feed terbaru dari orang tersebut melalui laman web Twitternya, baik melalui aplikasi telepon genggam atau komputer.
Ada aspek komunitas dalam penggunaan Twitter. Masing – masing feed Twitter menyajikan daftar dari pengikut dan yang diikuti pemilik feed. Hal ini memungkinkan pengguna untuk dengan mudah menemukan pengguna Twitter lainnya dengan minat yang sama.  Karena daftar ini pada dasarnya terbentuk berdasarkan minat, daftar ini menggambarkan gambaran atas komunitas yang ada disekitar feed Twitter secara sekilas.
Awalnya pesan Twitter dirancang untuk menjawab pertanyaan sederhana “Kamu lagi ngapain?” Menciptakan jalan pintas berkomunikasi antar teman agar masing – masing saling tahu apa yang  sedang terjadi dalam kehidupan mereka akhir – akhir ini.
Hal ini tetap menjadi aspek penting dalam layanan ini, serta turut membantu dalam menjelaskan beberapa kesuksesan Twitter dan penyebarannya. Namun, layaknya perangkat lunak manapun, pengguna memakai perangkat ini untuk tujuan yang sama sekali baru dan tidak diduga. Twitter semakin lama digunakan untuk tujuan yang berbeda, yang bukan merupakan tujuan awal dari dirancangnya Twitter, namun tujuan yang dipilih pengguna untuk capai melalui Twitter lebih karena beberapa karakteristik dari layanan ini.
Contoh – contoh berikut ini menunjukkan lima penggunaan berbeda dari Twitter, yang menggambarkan potensi penggunaan Twitter untuk aktivis politik.

ISTILAH – ISTILAH TWITTER

Tweet                                   Pesan twitter yang panjangnya hingga 140 karakter
Twitter Feed                        Berita dari pesan – pesan twitter oleh pengguna tertentu
Twitterer                              Orang yang menggunakan Twitter
Following                             Jika anda mengikuti feed Twitter pengguna lain, andamengikuti (“following”) pesan - pesannya
Followers                             Pengguna yang mengikuti feed Twitter anda
Hashtags                                  Jika symbol # (“hash”) mendahului suatu istilah dalam sebuah Tweet, istilah tersebut merupakan kata kunci (atau “tag”). Hashtags dapat mudah dicari dan telah menjadi salah satu fitur paling berguna di Twitter. Hashtags membantu anda dalam menempatkan pesan anda pada konteks yang lebih luas dan memungkinkan pengguna lain yang tertarik pada topik atau kata kunci tertentu menemukan feed yang berkaitan.
News Feed (Kabar Berita)          News feed merupakan kumpulan pesan – pesan baru. News Feed ini menunjukkan pesan – pesan baru dalam urutan yang kronologis. News feed biasanya disebarkan melalui RSS (really simple syndication – sindikasi sangat sederhana) dan melalui laman web khusus.
Twitterverse (Jagat Twitter)        Ranah Tweets dan Twitterers. Sama dengan blog, hanya terbatas pada 140 karakter.        

PENGGUNAAN 1: MENYEBARKAN BERITA
Kasus Pembunuhan Benazir Bhutto (Pakistan)    

Pada saat ini, salah satu tantangan terbesar bagi aktivis politik adalah menyebarkan berita atas kejadian yang relevan dengan tujuan mereka namun belum ditangkap oleh media tradisional.  Saluran media tradisional sering tidak tertarik dengan kisah – kisah yang ingin ditonjolkan oleh para aktivis. Melalui Twitter, para aktivis memiliki saluran untuk menyebarkan berita dari seluruh dunia, bahkan pada saat kejadian tersebut sedang berlangsung.
Pada bulan Desember tahun 2007, Benazir Bhutto, pemimpin partai oposisi orang Pakistan yang bernama Partai Rakyat Pakistan dibunuh dalam suatu serangan pada saat berlangsungnya demonstrasi politik (BBC News 2007). Untuk pertama kali, liputan berita yang dibuat oleh media yang telah ada tidak hanya melalui liputan berita melalui blog, namun juga dengan feed Twitter. Pengguna Twitter setempat, seperti Dr. Awab Alvi (@teeth) atau konsultan media sosial Dina Mehta (@dina, Mehta 2007) mulai memonitor saluran media lokal dan internasional serta menulis hasil observasi mereka serta komentar mereka di blog dan feed Twitter pribadi mereka. Twitterers terkemuka seperti Dave Winer (@davewiner), Laura Finton (@pistachio) dan Dennis Howlett (@dahowlett) juga mulai menulis potongan sumber berita yang berbeda untuk masing-masing feed Twitter mereka. Sejak saat itu, di Twitterverse penuh dengan diskusi kejadian di Rawalpindi beserta dampak yang diakibatkan (Howlett 2008).
Alasan dari intens dan cepatnya diskusi ini terjadi terletak pada sifat dasar dari Twitter dan mikroblog pada umumnya. Semenjak Twitter digunakan sebagai perangkat yang utamanya digunakan untuk mendapatkan berita pribadi terbaru oleh komunitas dengan minat yang sama, berita menyebar dengan cepat.
PENGGUNAAN 2: KAMPANYE MELALUI MEDIA SOSIAL
Kasus – kasus Laporan Pemungutan Suara Twitter

Menarik perhatian saluran media tradisional menjadi masalah yang tetap ada bagi para aktivis dan LSM. Pada saat media mengabaikan anda, bagaimana cara anda menekan perusahaan atau pemerintah? Di masa lalu beberapa kelompok telah menggunakan Twitter dengan sukses untuk meraih tujuan ini dan meneruskan langkah mereka. 
Laporan Pemungutan Suara Twitter, suatu usaha dimana sebuah jaringan non-partisan yang semuanya merupakan relawan menggunakan Twitter untuk memonitor proses pemungutan suara pada pemilihan Presiden AS pada tahun 2008, merupakan salah satu contoh yang bagus. Menanggapi tulisan blog Nancy Scola dan Allison Fine sebelumnya mengenai kemungkinan penggunaan Twitter dan hashtag untuk melaporkan penyimpangan yang mungkin terjadi dalam proses pemungutan suara di tataran lokal (Scola 2008a) jaringan pengembang dan relawan meciptakan basis teknologi untuk mengumpulkan dan menyimpan Tweets dengan hashtag tertentu selama hari-H pemungutan suara. Kumpulan tersebut menjadi Laporan Pemungutan Suara Twitter (Scola 2008). Usaha ini secara luas dibahas dalam berita, sehingga menarik perhatian atas masalah prosedur pemungutan suara yang adil dan merata di mana-mana melalui penggunaan teknologi mereka secara inovatif.
Twitter telah menjadi perangkat yang berharga dalam interaksi beragam platform media sosial. Meletakkan (Twitter) sebagai bagian dari strategi media sosial anda akan terbukti bermanfaat. Namun Twitter jangan digunakan sebagai saluran yang terisolir. Kekuatannya terletak pada kombinasi layanan ini dengan saluran media sosial yang telah ada sebelumnya seperti YouTube, Facebook atau blog.

PENGGUNAAN 3: MENGKOORDINASIKAN AKSI KOLEKTIF
Kasus kebakaran di San Diego (AS)
           
Setiap organisator tahu betul sulitnya mengkoordinasikan aksi kolektif bahkan pada saat kejadian – kejadian baru sedang berkembang.  Siapa telah melakukan apa dan dimana? Apa yang sedang terjadi dan bagaimana hal tersebut merubah rencana yang telah disiapkan? Menggunakan Twitter dapat memberikan jalan keluar yang menarik untuk masalah ini.  
            Pada bulan Oktober 2007, jatuh korban dari bencana kebakaran hutan di San Diego. Karena daerah permukiman berada dalam bahaya, warga San Diego bergantung pada liputan berita secara langsung mengenai lokasi kebakaran yang terus berubah dan prosedur penyelamatan. Saluran media yang telah ada tidak dapat memuaskan kebutuhan mendesak atas infomasi terkini, sehingga 2 warga , Nate Ritter (@nateritter) dan Dan Tentler (@viss) mulai menuliskan informasi terkini mengenai kebakaran tersebut beserta prosedur penyelamatan dalam feed Twitter pribadi mereka. Feed mereka menyajikan kumpulan berita dari saluran media resmi serta informasi yang dikumpulkan dari para tetangga dan teman yang memonitor perkembangan di lapangan. Feed mereka ini telah menjadi tulang punggung informasi bagi masyarakat (Poulsen: 2007).
Aktivis politik dapat menggunakan Twitter sebagai sumber informasi layaknya dari sekelompok intelijen (Arquilla 2000) dan sebagai perangkat untuk mengkoordinasikan aksi kolektif.  Pernyataan atas pentingnya perangkat seperti Twitter dalam mengkoordinasikan relawan diungkapkan oleh Dinas Pemadam Kebakaran LA berkaitan dengan kebutuhan untuk mengintegrasikan layanan Web 2.0 dalam strategi mereka: “Kita tidak bisa lagi bekerja sesuai dengan kecepatan pemerintah dalam bekerja. Kita bertanggungjawab terhadap publik dalam menyalurkan informasi secepat mungkin …. sehingga mereka dapat membuat keputusan penting” (Chitosca 2007).

PENGGUNAAN 5: KEAMANAN PRIBADI
Kasus Penangkapan yang Diungkapkan Melalui Twitter (Mesir)
           
Terus mendapatkan informasi mengenai keadaan komunitas mereka menjadi tantangan yang tetap ada bagi para aktivis. Terutama aktivis politik yang hidup di bawah rezim yang supresif akan menghadapi bahaya yang terus menerus. Oleh sebab itu penting bagi kelompok aktivis lokal agar dapat mengkomunikasikan status mereka terkini secara teratur pada anggota kelompok mereka. Twitter terbukti menjadi perangkat yang ampuh bagi sekompok orang untuk saling melacak keberadaan masing – masing dari jauh.
            Pada saat terjadi demonstrasi anti pemerintah di Mesir pada bulan April 2008, polisi Mesir menahan mahasiswa jurnalisme Amerika bernama James Karl Buck dan penterjemahnya bernama Mohammed Maree. Dalam perjalanan menuju kantor polisi, Buck sempat menggunakan telepon genggamnya dan mengirimkan SMS. Bersamaan dengan menuliskan SMS ini, dia meng-update feed Twitternya hanya dengan satu kata “Ditangkap”. Teman – teman dan rekan kerja James Karl Buck memonitor feed Twitternya dan membebaskannya dari penjara Mesir dalam hitungan jam, meskipun mereka terpisah jauh (Simon 2008). Pada bulan April 2009, aktivis Visual Wael Abbas juga menTwitterkan penangkapan atas dirinya dengan lebih rinci, dia terus nge-Tweet selama dalam tahanan (@waelabbas). Aktivis politik dapat menggunakan Twitter untuk saling memonitor tanpa berada di tempat yang sama. Hal ini meningkatkan keamanan aktivis politik secara lebih jauh.


No comments:

Post a Comment