Thursday, November 8, 2012

Positivisme versi Prancis, Amerika dan Jerman


Positivisme Prancis (diambil dari buku Positivism in Social Theory and Research tulisan Christopher G. A. Bryant). Ada 11 prinsip dalam tradisi Positivisme Prancis:
  1. Hanya ada satu dunia dan memiliki eksistensi objektif
  2. Konstituen dunia dan hukum – hukum yang mengatur pergerakannya dapat ditemukan melalui ilmu pengetahuan itu sendiri, ilmu pengetahuan menjadi satu –satunya bentuk pengetahuan. Oleh sebab itu apabila tidak dapat dijelaskan secara ilmu, tidak bisa dijelaskan.
  3. Ilmu pengetahuan tergantung pada logika dan observasi yang dikombinasikan
  4. Ilmu pengetahuan tidak dapat menemukan seluruh konstituen dunia, dan semua hukum – hukum yang mengaturnya, karena kemampuan manusia untuk memberikan logika dan observasi adalah terbatas. Pengetahuan keilmuan akan tetap ada berdasar pada tingkat pertumbuhan intelektual yang diperoleh dan perkembangan organisasi sosial dari ilmu pengetahuan.
  5. Apa yang mendasari seseorang dalam mencari tahu mengenai dunia biasanya berdasarkan pada ketertarikan praktis dan situasi di sekitarnya.
  6. Ada hukum – hukum atas perkembangan historis yang penemuannya menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya, memahami apa yang terjadi sekarang dan memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
  7. Masyarakat adalah realitas sui generis yang dijelaskan dengan menyatakan bahwa masyarakat      adalah organisme yang keseluruhan karakter dan propertinya berkaitan dengan kombinasi bagian – bagian dari organisme tersebut yang merupakan pembentuk organisme tersebut.
  8. Tatanan sosial merupakan keadaan alami.
  9. Pilihan moral dan politik dicapai berdasarkan pada ilmu pengetahuan.
  10. Penaklukan manusia karena hukum – hukum alam dari sejarah dan masyarakat menghalangi evaluasi akan bentuk – bentuk institusional dan kultural dalam berbagai hal dan tidak sejalan dengan hukum – hukum alam tersebut.
  11. Paham positif, konstruktif menggantikan yang negative dan kritis. Positif, dan relatifitas juga menggantikan teologis dan metafisikal, dan paham absolute.

Positivisme Amerika
Ciri – ciri utama positivisme Amerika, atau yang disebut sebagai Positivisme Instrumental, adalah:
  1. Diutamakannya, dengan perbaikan, teknik – teknik statistik dan instrumen penelitian
  2. Pengesahan akan konsepsi nominalis atau individualistis dari masyarakat
  3. Keterhubungan dengan induksi, verifikasionisme dan incrementalism
  4. Keterhubungan dikotomi (yang salah) fakta dan nilai dengan konsepsi (kesalahpahaman) dari bebas – nilai
  5. Ditonjolkannya kelompok penelitian dan pengadaan pusat – pusat atau institut – institut penelitian sosial terapan

 Positivisme Jerman
Positivisme Jerman dan Austria di dasarkan pada pemikiran Weber yang berlandaskan pada “Historical Economists”. Dan kaitannya dengan ilmu sosial Weber menyatakan sebagai berikut:
“Tipe ilmu sosial yang kita minati adalah ilmu empiris dari realitas konkrit (Wirklichkeitswissenschaft). Tujuan kami adalah untuk memahami keunikan karakteristik dari realitas yang menggerakkan kita. Kami ingin memahami hubungan dan signifikasi kultural dari peristiwa – peristiwa tertentu pada manifestasi kontemporer sehingga menjadi sejarah bagi mereka dan bukan sebaliknya” (Bryant, 1985: 80)

Paradigma Evolusionisme, dikatakan oleh sebuah sumber dari website, berlandaskan pada Positivisme Prancis:
“Comte undertook to reconstruct the social and political organization, not on a religious or political basis but with science as its foundation. His starting point is an observation or examination of historico-social reality. Humanity, according to Comte, possesses certain laws of evolution, according to which it passes, as it were, through three stages: theological, metaphysical and positive” (http://www.radicalacademy.com/philpositivists.htm)

Dan saya setuju dengan pendapat tersebut dengan penjelasan dalam bentuk tabel yang membandingkan ciri – ciri Evolusionisme dengan prinsip – prinsip Positivisme dalam tradisi Prancis:

Evolusionisme
Positivisme Prancis
Memiliki landasan filsafat dimana gejala sosial budaya seperti gejala alam
Tatanan sosial merupakan keadaan alami
Kebudayaan mengalami suatu proses perubahan yang relatif lambat menuju sebuah sistem yang relatif lebih kompleks
Ilmu pengetahuan tidak dapat menemukan seluruh konstituen dunia, dan semua hukum – hukum yang mengaturnya, karena kemampuan manusia untuk memberikan logika dan observasi adalah terbatas. Pengetahuan keilmuan akan tetap ada berdasar pada tingkat pertumbuhan intelektual yang diperoleh dan perkembangan organisasi sosial dari ilmu pengetahuan.
Memiliki model organisme dimana organisme tersebut mengalami perubahan
Masyarakat adalah realitas sui generis yang dijelaskan dengan menyatakan bahwa masyarakat adalah organisme yang keseluruhan karakter dan propertinya berkaitan dengan kombinasi bagian – bagian dari organisme tersebut yang merupakan pembentuk organisme tersebut.
Bertujuan merumuskan hukum – hukum (karena berlandaskan pada espitemologi Positivisme)
Ada hukum – hukum atas perkembangan historis yang penemuannya menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya, memahami apa yang terjadi sekarang dan memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.


 Paradigma Fungsionalisme menurut saya juga berlandaskan pada Positivisme Prancis. Fungsionalisme, dengan tokohnya Malinowski, dipengaruhi oleh Durkheim yang merupakan sosiolog Prancis. Pemikiran – pemikiran Malinowski dalam paradigma ini adalah (diambil dari catatan Pengantar Sejarah Teori Pengantar Antropologi Modern):

  1. Kebudayaan adalah seperti makhluk hidup yang beradaptasi dengan lingkungan dan memiliki hubungan fungsional. Budaya juga sebagai functioning whole atau keseluruhan yang berfungsi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu.
  2. Ciri penting makhluk hidup: memiliki elemen – elemen atau unsur – unsur dimana unsur – unsur ini memiliki hubungan satu sama lain.
  3. Penekanan pada fakta empiris
  4. Keberlanjutan suatu kebudayaan merupakan warisan sosial dan dapat dibuktikan, bukannya bersifat biologis atau biological heritage, yang kemudian diperoleh melalui proses belajar

Apabila diletakkan dalam bentuk tabel ciri Fungsionalisme (teori – teori Fungsionalisme) dengan prinsip Positivisme Prancis adalah:

Fungsionalisme
Positivisme Prancis
Kebudayaan adalah seperti makhluk hidup yang beradaptasi dengan lingkungan dan memiliki hubungan fungsional. Budaya juga sebagai functioning whole atau keseluruhan yang berfungsi yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tertentu. Ciri penting makhluk hidup: memiliki elemen – elemen atau unsur – unsur dimana unsur – unsur ini memiliki hubungan satu sama lain
1.     Masyarakat adalah realitas sui generis yang dijelaskan dengan menyatakan bahwa masyarakat adalah organisme yang keseluruhan karakter dan propertinya berkaitan dengan kombinasi bagian – bagian dari organisme tersebut yang merupakan pembentuk organisme tersebut.
2.     Apa yang mendasari seseorang dalam mencari tahu mengenai dunia biasanya berdasarkan pada ketertarikan praktis dan situasi di sekitarnya
Penekanan pada fakta empiris
Ilmu pengetahuan tergantung pada logika dan observasi yang dikombinasikan
Keberlanjutan suatu kebudayaan merupakan warisan sosial dan dapat dibuktikan, bukannya bersifat biologis atau biological heritage, yang kemudian diperoleh melalui proses belajar

Ada hukum – hukum atas perkembangan historis yang penemuannya menjelaskan apa yang terjadi sebelumnya, memahami apa yang terjadi sekarang dan memprediksikan apa yang akan terjadi di masa yang akan datang

Ilmu pengetahuan tidak dapat menemukan seluruh konstituten dunia, dan semua hukum – hukum yang mengaturnya, karena kemampuan manusia untuk memberikan logika dan observasi adalah terbatas. Pengetahuan keilmuan akan tetap ada berdasar pada tingkat pertumbuhan intelektual yang diperoleh dan perkembangan organisasi sosial dari ilmu pengetahuan







No comments:

Post a Comment